Telah berakhir hari-hari yang penuh keberkahan,  telah berakhir hari-hari yang penuh ampunan dan pelipatgandaan pahala, yang telah memberikan semangat untuk para pencari ridho-Nya semakin mendekat kepada-Nya. Hari-hari yang penuh dengan keindahan beribadah… meniti jalan menuju taqwa.

Berakhirnya hari-hari indah tersebut jangan menjadikan kita terlena dengan kembali kepada kebiasaan buruk kita. Tetapi mari kita merenungi diri untuk menegaskan telah adanya bekal bagi perjalanan kita yang panjang, bekal persiapan yang memadai dalam melintasi dan mengarungi perjalanan panjang … “Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku wahai orang yang memiliki akal”. (Al-Baqoroh : 197). Mari kita jadikan momentum ini menjadi momentum perubahan diri –tentu saja dalam makna perubahan menuju kebaikan, ishlah– guna merealisasikan amanah utama kita.

Amanah yang bersifat fungsional yaitu menjadi hamba yang taat “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Adz-Dzariyat : 56), dan amanah struktural untuk memakmurkan bumi, dan menjadi khilafah di dalamnya. “Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa”. (An-Nuur : 55).

Telah berlalunya bulan ramadhan jangan berarti juga berakhirnya aktivitas as-syiam, al-qiyam, i’tikaf kita. Berakhirnya Ramadhan juga bukan berarti berhentinya rahmat dan maghfirah Allah… tetapi hanya merupakan satu momentum pemberhentian sementara untuk kemudian tetap dalam ambisi kita menuju cahaya Allah, memantapkan tujuan hidup, dan upaya mewujudkan nilai-nilai islam ke dalam jiwa hingga nantinya secara nyata terwujud di muka bumi; untuk senantiasa bergerak di dalam orbit dakwah, sehingga seakan seperti quran berjalan ditengah manusia pada setiap tempat sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya telah melakukannya.

Amal yang paling baik di sisi Allah dan RasulNya ialah amalan yang konsisten. Oleh itu, jangan sampai amal sholeh kita terhenti hanya pada Ramadhan saja dan hilang lenyap setelahnya. Contoh yang paling nyata ialah tilawah Al-Qur’an. Ini bukan aktivitas yang khusus hanya pada bulan Ramadhan saja, namun bacaan Al-Qur’an ini mesti dilakukan setiap hari. Begitu juga halnya dengan amalan-amalan lain seperti solat berjemaah, shoum, zakat, infaq, dan shodaqah. Amalan-amalan ini tidak dikhususkan pada bulan Ramadhan saja, tetapi untuk sepanjang tahun.

Demikian pula dengan meninggalkan maksiat…, ia tetap wajib ditinggalkan seperti ketika di dalam bulan Ramadhan. Tidak sempurna, bahkan cacatlah seseorang yang istiqamah dalam melakukan ibadah tetapi dalam waktu yang sama istiqamah juga dalam melakukan maksiat.

Yaa…, akhir Ramadhan bukan akhir perjuangan ketaqwaan kita… namun selalu menjadi awal perjuangan ketaqwaan. Dan, akhirnya mari kita terus dawwamkan usaha taqwa kita… sebagaimana kita juga mesti mendawwamkan do’a kita…, Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqna tibaah, Allahumma arinal baathila baathila warzuqnat tinabah.