Al-waqtu kasy-syaif (waktu adalah pedang), begitu pepatah menggambarkan tajamnya sang waktu. Masa lalu, masa kini, dan masa depan bersaing mengisi kehidupan. Masa kini, waktu menajam hingga berubahnya waktu kian tak terasa. Demikian pula perjalanan bangsaku yang telah berjuang lebih dari 350 tahun untuk merdeka dan 62 tahun berjuang mengisi kemerdekaannya.

Dalam perjalanan panjangnya itu, bangsaku belum juga bersepakat untuk menemukan gambaran masa depannya yang gemilang, apalagi bergandeng tangan melangkah ke sana dengan penuh suka cita. Mungkin hanya ada satu kesepakatan bahwa kita harus segera keluar dari kondisi masa kini yang tidak terlalu menyenangkan ini.

Gambaran ini menjadi sebuah ironi, sebagaimana Alice berdialog dalam kisah Alice in wonderland berikut :

“Maukah anda menunjukkan kepadaku, kemana aku harus pergi dari sini?” tanya Alice.
“Jawabannya sangat tergantung kemana anda mau pergi”, kata si Kucing,
“Aku tak perduli kemana saja, asal pergi dari sini” jawab Alice lagi,
“Kalau demikian, tak jadi masalah, arah kemana saja anda pergi, anda tinggal melangkah cukup lama dan anda pasti akan sampai” kata si Kucing lagi

Bangsa Indonesia telah melalui berbagai fase pengelanaan, yang seharusnya segera berujung pada masa depan yang cerah, untuk kemudian bisa segera menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang lainnya, yaitu mengelola bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera sebagaimana diimpikan oleh berjuta rakyat.

Dalam menggapai masa depan tersebut, setiap pribadi di bangsa ini harus memposisikan dirinya sebagai insan yang memiliki proaksi intelektual terhadap perubahan peta dan dinamika peradaban bangsanya pada segala bidang dan tingkatan, dalam skala dan intensitas perubahan yang sangat dan semakin luar biasa. Perubahan yang dalam skala global tercermin di dalam gelombang persaingan, pergesekan, dan bahkan benturan antar berbagai peradaban untuk saling merebut kekuasaan di dunia.

Kita melihat nafsu dunia Barat yang sangat kuat untuk berkuasa dan mengangkangi dunia melalui berbagai programnya, melalui westernisasi, anti terorisme, perdagangan global, dan sebagainya. Negara-negara kecil, termasuk bangsaku, dengan terpaksan terbawa arus hegemoni Barat itu, sehingga bagai orang yang terbawa hanyut di arus sungai yang deras, hanya mampu menggapai-gapaikan tangan dan memegang setiap barang yang dating walau tak mampu menyangga beban tubuhnya, dan akhirnya tetap saja hanyut.

Saya mengajak para pemimpin dan intelektual bangsa, mari kita menjadi organ bagi tubuh bangsa ini untuk mampu memilih pegangan yang kuat sehingga mampu keluar dari arus yang menghanyutkan dan bersiap untuk pulang ke masa depan kita sendiri, dan bukan ke masa depan orang lain.

Untuk itu kita mesti cermat dalam melihat dan bertindak. Pertama, kita harus menjadi pribadi dan bangsa yang memiliki jati diri dan berwatak yang jelas, dengan sikap moral yang kuat dengan landasan keagamaan yang jelas, jangan menjadi bangsa yang bukan-bukan, bukan bangsa yang berdasar agama dan juga bukan bangsa yang sekuler.

Kedua, kita harus mawas dengan segala ancaman dari luar yang akan senantiasa mencoba terus menggiring kita ke dalam jalan-jalan mereka, bahkan sampai kita ikut masuk ke dalam lubang jarum sekalipun. Kita mesti mampu bersikap terhadap setting luar, baik berupa isu nuklir, isu terorisme, isu perdagangan global, isu westernisasi, dan seabreg isu global lainnya. Globalisasi telah menimbulkan dampak yang sangat berarti dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. mengemukakan bahwa ada tiga dimensi proses globalisasi, yaitu: globalisasi ekonomi, globalisasi politik, dan globalisasi budaya. Dari segi dimensi globalisasi budaya, muncul beberapa jenis space atau lukisan, seperti: etno-space, techno-space, finance-space, media-space, idea-space, dan sacri-space. Jangan sampai universalisasi sistem nilai gobal yang terjadi dalam dimensi kebudayaan telah mengaburkan sistem nilai (values system) kehidupan manusia, khususnya pada negeri kita tercinta, Indonesia.

Ketiga, kita sudah saatnya melakukan analisa yang lengkap untuk membuat peta jalan (road map) guna menjadi pegangan kita dalam perjalanan kita untuk pulang ke masa depan. Dengan road map itu kita akan tahu dari mana kita berjalan, melalui rute mana kita melangkah, dan menggunakan kendaraan apakah kita ?

Artinya kita harus mampu melihat dari berbagai sisi kehidupan kita, dari sisi agama, sosial, budaya, ekonomi, pembangunan, politik, dan sebagainya. Satu hal penting yang harus dijadikan untuk tempat berpijak awal adalah membenahi sisi sosial, khususnya sektor pendidikan yang berkarakter.

Kita merasa sudah berbuat banyak dalam memajukan pendidikan, namun kita lupa menentukan visi kemana tujuan pendidikan kita, sehingga seberapa cepat dan lebar langkah kita serta arah mana yang diambil ternyata tidak banyak berarti. Visi mau jadi apa anak anak didik kita setelah menjalani pendidikan selama dua belas tahun. Dengan merubah kurikulum, dengan merubah sistim pendidikan dan sebagainya tentu akan berdampak pada kualitas anak didik, namun apakah hasil/kualitas itu yang memang kita inginkan, itu yang menjadi inti pertanyaan saat ini.

Alfin Tofler pernah mengingatkan kita, bahwa “semua pendidikan harus bersumber dari gambaran masa depan. Jika gambaran masa depan yang diyakini masyarakat melenceng jauh, maka sistim pendidikan telah mengkhianati kaum muda“. Jadi bangsa ini harus segera mempunyai gambaran yang jelas akan rumah masa depannya yang akan dituju. Namun banyak keluhan mampir di sector pendidikan ini.

Emha Ainun Nadjib (Surat Kepada Kanjeng Nabi, 1997: 300): “Dunia pendidikan sudah menjadi bagian yang inheren dari mekanisme politik, birokrasi, dan mobilisasi. Bersekolah bukanlah mencari ilmu (sekedar menghapalkan pengetahuan tertentu), bukanlah mengolah kreativitas (bahkan guru acapkali merupakan agen dekreativitas), dan bukan pula menggali dan mengembangkan kepribadian (bersekolah ialah penyeragaman atau penghapusan unikum manusia)”. Keluhan Cak Nun, atau dikenal sebagai kiai mbeling, di atas patut diperhatikan. Walaupun dia seorang yang gagal sekolah, katakanlah dia drop out, dari Gontor maupun UGM, tapi banyak tokoh yang punya nasib cemerlang, walaupun gagal sekolah. Ada pula mantan guru yang tampil secara cemerlang dan dianugerahi pangkat istimewa jendral besar, seperti Panglima Besar Soedirman dan Abdul Haris Nasution.

Jadi, sekali lagi, adalah bagaimana kita menata pendidikan sebagai langkah awal –walaupun juga harus diimbangi secara paralel pembenahan sector lainnya– pembenahan kondisi bangsa kita ini.

Pendidikan, Tuntunlah Bangsa Ini Pulang ke Masa Depan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, pasal 1)

Proses pendidikan tidak dapat dilepaskan dari landasan filosofis melalui Filsafat Pendidikan, ilmu pengetahuan dan tuntunan agama, walaupun ketiganya tidak selalu sama. Ilmu pengetahuan, dengan metodanya sendiri, mencari kebenaran tentang alam dan –termasuk di dalamnya– manusia. Filsafat, dengan wataknya sendiri pula, menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia (yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena di luar atau di atas jangkauannya), ataupun tentang Tuhan. Agama, dengan karakteristiknya sendiri pula, memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia; baik tentang alam, maupun tentang manusia ataupun tentang Tuhan (Anshari, 1987 : 173-175).

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S.An-Nisaa : 9)

Semua anak dilahirkan dalam keadaan Fithrah. Maka Ibu dan Bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhori)

Anak adalah aset keluarga sekaligus aset ummat dan bangsa yang akan menentukan kualitas ummat dan bangsa. Oleh karenanya orang tua harus mempercayakan pendidikan anak-anaknya pada lembaga pendidikan yang berkualitas agar dapat menjaga kemurnian fithrahnya dan membina diri anak menjadi insan kamil, yaitu manusia yang mulia di sisi Allah dan di sisi manusia.

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan dan hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan agar ia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba (QS As-Syams:8, Adz-Dzariyat: 56), yang siap menjalankan risalah yang dibebankan kepadanya sebagai khalifah di muka bumi (QS Al-Baqarah:30 dan Al-Ahzaab:72 ) Oleh karena itu pendidikan berarti merupakan suatu proses membina seluruh potensi manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertaqwa, berfikir, dan berkarya untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya.

Tujuan Pendidikan seharusnya mengajarkan, mengasuh, melatih, mengarahkan, membina dan mengembangkan seluruh potensi peserta didik dalam rangka menyiapkan mereka merealisasikan fungsi dan risalah kemanusiaannya di hadapan Allah SWT: yaitu mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dan menjalankan misi kekhilafahannya di muka bumi sebagai makhluk yang berupaya memakmurkan kehidupan dalam tatanan hidup bersama dengan aman, damai dan sejahtera.

Oleh karena itu pendidikan seharusnya diarahkan kepada upaya ma’rifah (pengenalan yang mendalam) terhadap Allah SWT dalam upaya mengokohkan tali hubungan denganNya sebagai Rob, Pencipta, Pemelihara dan Penguasa alam raya, dan kemampuannya meningkatkan kualitas hubungan dengan sesama makhluk guna bersama merealisasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai ilahiyah sehingga tercipta keadilan dan kesejahteraan bagi sesama dan semua.

Dengan memancarnya Islam, yang risalahnya sangat memperhatikan pendidikan, peradaban manusia mencapai puncak kejayaannya. Lihatlah peradaban luhur yang tercermin dalam akhlaqul karimah pada masa generasi awal (assabiquunal awwalun). Kejujuran, kesetiaan, pengorbanan, keberanian, tanggung jawab, kesungguhan, kesabaran, kedermawanan, keterbukaan, amanah, keteguhan, kasih-sayang, kerapian, kebersihan, kesederhanaan adalah sifat-sifat yang melekat erat dan menjadi pakaian sehari-hari masyarakat Islam saat itu. Sehingga laiklah mereka disebut sebagai sebaik-baik generasi.

Ibnu Abdu Rabbihi seorang pemikir yang masyhur di abad X dalam bukunya yang berjudul al-‘Iqd al-Farid (Rantai yang unik) menjelaskan bahwa ilmu dan pendidikan sebagai asas utama bagi kehidupan di dunia dan di akhirat yang membedakan manusia daripada binatang. Ilmu dan pendidikan adalah asas perkembangan intelek, pelita kepada jasad, cahaya kepada hati dan panduan kepada roh. Intelek menerima ilmu sama cahaya dengan penglihatan menerima warna, pendengaran menerima bunyi.

Khilafah Utsmaniyah pernah menjadi negara adidaya yang sangat ditakuti oleh seluruh negeri baik oleh Cina di Timur maupun oleh Eropa di Barat. Paling tidak Sultan Muhammad Al Faatih II Wilayah pemerintahannya sampai merangkul sebagian Eropa, hingga Yugoslavia, Bosnia. Sementara itu di sisi sebelah barat, Musa ibnu Nushairi, dengan panglimanya Thoriq bin Ziyad berhasil masuk jauh ke wilayah Eropa Barat, sampai ke jantung Perancis.

Maka tercenganglah dunia menyaksikan bagaimana Islam kemudian membangun peradaban di wilayah taklukannya. Peradaban Islam berkemilau di pentas Andalusia, Cordova, Istambul; pada saat yang sama wilayah terdekatnya (Eropa) sedang lelap tertidur berselimut kebodohan dan kegelapan. Tentu saja peradaban yang pernah mengagumkan dunia itu tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh melalui suatu proses kerja keras yang panjang dan melelahkan. Semua sangat didukung oleh sumber daya manusia yang yang mumpuni pada zamannya tentu saja menjadi tangguh setelah melewati suatu program pendidikan yang terarah dan sistematis. Pendidikan menempati prioritas pertama dan utama serta mendapat perhatian seksama pada setiap zaman keemasan dan kejayaan Islam.

Pada saat ini, di Indonesia telah terjadi “sekularisasi pendidikan” pada sektor pendidikan umum yang memisahkan pendidikan umum dari pendidikan agama yang sesungguhnya sarat dengan pesan-pesan moral. Sementara di sektor pendidikan agama yang banyak diselenggarakan dalam institusi madrasah atau pesantren terjadi “sakralisasi” yakni, muatan-muatan agama yang seolah “tidak peduli” dengan apa yang terjadi dan berkembang di dunia. Jadilah mereka siswa-siswa yang mengetahui ilmu agama, tetapi gagap dalam beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari yang sarat dengan perubahan dan perkembangan ilmu dan teknologi atau sebaliknya, siswa yang cakap di bidang ilmu dan teknologi tetapi rentan dari sisi moral dan agama.

Dengan kondisi rapuhnya kualitas SDM (HDI tahun 2002 berada pada peringkat 117), Indonesia kemudian berhadapan dengan global competition (persaingan global) yang sangat ketat dengan adanya AFTA, WTO dan sebagainya. Tahun-tahun ke depan, batas-batas negara semakin kabur. Setiap negara mau tidak mau harus bekerjasama dan sekaligus bersaing dengan negara lain dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraannya.

Mengejar kualitas pendidikan merupakan salah satu syarat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan di atas. Pemerintah dan masyarakat hendaknya berusaha memberdayakan warga negara untuk menjadi manusia yang berkualitas. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang menerapkan nilai-nilai moral dan demokratis dalam kehidupan masyarakatnya, yang sadar akan hak dan kewajibannya sebagai seorang warga negara. Pendidikan berkualitas bukan hanya menghasilkan kader pemimpin bangsa tetapi juga menghasilkan kader pemimpin yang menguasai ilmu pengetahuan dan mengembangkannya.

Atau secara ringkas sebagaimana rumusan yang diajukan oleh “Komisi Internasional Untuk Pendidikan Abad Dua Puluh Satu” dalam laporannya ke UNESCO, yaitu tentang tentang empat pilar pendidikan :
1. Learning to live together: belajar untuk memahami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya;
2. Learning to know: penguasaan yang dalam dan luas akan bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya learning to how;
3. Learning to do: belajar untuk mengaplikasi ilmu, bekerjasama dalam team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi;
4. Learning to be: belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.

Keempat pilar pendidikan masa depan itu kemudian harus diterjemahkan ke dalam format sekolah yang diharapkan mampu membantu siswa-siswi untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi kehidupan di masa depan, yaitu: kompetensi keagamaan, kompetensi akademik, kompetensi ekonomi, dan kompetensi sosial pribadi.

Format pendidikan yang berkualitas tersebut juga harus memperhatikan azas-azas psikologi, psikometri dan pedagogi. Semua aktivitas belajar selayaknya berlandaskan kepada pencapaian tugas-tugas perkembangan dan prinsip-prinsip belajar yang meliputi hal-hal yang terkait dengan kerja kognitif, individual differences, motivasi, bakat dan kecenderungan, serta tata hubungan antar individu.

Dalam konteks itulah perlu konsep pendidikan dengan aplikasi landasan moral dan agama dalam pendidikan yang mengarahkan peserta didik dan hasil proses pendidikan yang menjadi manusia yang unggul dalam semua aspek khususnya ditinjau dari keunggulan intelektual dan keimanan serta ketaqwaannya.

Melalui sistem pendidikan secara terpadu diharapkan terwujud peserta didik yang berkarakter :
• manusia beraqidah yang benar (Tarbiyah ‘Aqidiyah).
• manusia berakhlaq mulia (Tarbiyah Khuluqiyah).
• manusia berfikir yang cerdas (Tarbiyah Fikriyah).
• manusia sehat dan kuat (Tarbiyah Jismiyah).
• manusia yang kreatif, inisiatif dan responsif (Tarbiyah Amaliyah).
Tujuan akhir dari pendidikan adalah mewujudkan dan merealisasikan penghambaan yang menyeluruh dan total kepada Allah dalam kehidupan manusia, baik secara individual maupun sosial.

Dengan pembenahan pendidikan yang memiliki ruh seperti itulah, maka pendidikan akan mampu menjadi penuntun bangsa ini pulan ke masa depannya yang cerah.

Allahu a’lam bish showab.

by Didik Agus T