Tahukah kalian, apa yang ku harapkan dari pendidikan yang kulakukan atas anak-anak didikku? Sungguh, aku ingin mereka tumbuh berkembang menjadi anak-anak yang siap memikul beban amanah kehidupan. Aku ingin mereka tumbuh berkembang menjadi anak-anak yang kapanpun dan dimanapun selalu merasa bangga dan selalu bisa lantang berkata di depan setiap orang, siapapun dia “Isyhadu bi ana muslimun. Saksikan, inilah aku seorang muslim.” Allahu Akbar.

Menjaga Fithrah Membina Insan Kamil” adalah visi yang ditawarkan lembaga pendidikan tempatku mengabdi hari ini.
Honestly, aku belum pernah mencoba memahami seutuhnya makna visi ini dari sudut pandang para qiyadahku di yayasan. Aku baru mencoba-coba menafsirkannya atas pemahaman dan versiku sendiri.

Menjaga fithrah. Banyak pakar yang mengartikan tentang fithrah. Quraish Shihab mengartikan fithrah sebagai unsur, sistem dan tata kerja yang diciptakan Allah pada makhluk sejak awal kejadiannya sehingga menjadi bawaannya. Sejak asal kejadiannya manusia telah membawa potensi keberagamaan yang benar yang diartikan para ulama dengan tauhid. Ini bisa dibaca pada QS Arrum:30 yang artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (yang benar). Fithrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya (fithrah itu). Tidak ada perubahan pada fithrah Allah, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Imam Nawawi mendefinisikan fithrah sebagai kondisi yang belum pasti (unconfirmed state) yang terjadi sampai seorang individu menyatakan secara sadar keimanannya. Sementara menurut Abu Haitam fithrah berarti bahwa manusia yang dilahirkan dengan memiliki kebaikan atau ketidakbaikan (prosperous or unprosperous) yang berhubungan dengan jiwa. Ia mendasarkannya pada hadits yang cukup populer, “setiap orang dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka orangtuanya yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Al Qurtubi mendukung pandangan positif tentang fithrah dengan menggunakan analogi mengenai hewan yang secara fisik tidak cacat untuk menggambarkan bahwa, hanya karena hewan dilahirkan tidak lengkap, sementara manusia dilahirkan dengan kapasitas yang tanpa cacat, sehingga manusia dapat menerima kebenaran.

Konsep fithrah sebagai konsep ketuhanan yang orisinal, tidak dengan begitu saja berkonotasi menerima tindakan yang baik dan benar secara pasif. Namun dengan kecenderungan yang aktif dan predisposisi bawaan untuk mengetahui Allah, tunduk kepada-Nya, dan beramal soleh. Ini merupakan kecenderungan alami manusia dalam meniadakan faktor-faktor yang berlawanan. Walaupun semua anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, pengaruh lingkungan menentukan juga. Orang tua mungkin mempengaruhi agama anaknya dengan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Jika tidak ada pengaruh yang merugikan, anak akan secara terus-menerus memunculkan fithrahnya sebagai hakikat kebenarannya.

No doubt, mereka, anak-anak itu, semuanya tanpa kecuali terlahir dalam keadaan fithrah. Dan sebagian manusia-manusia fithrah ini, kini berkelindan di sekitarku, siap mendengar dan melakukan apa yang kulisankan (“Maka wahai Allah, hanya kepadaMu aku berlindung dari ketidakterjagaan lisan dan perbuatan. Wahai Allah, hanya kepadaMu kuserahkan sepenuhnya penjagaan diri anak-anak didikku”).

Kini saatnya kuajak kalian menyusuri sebagian sudut-sudut kehidupan kurcaci- kurcaciku. Setiap hari selama enam puluh menit, para kurcaci yang telah membuatku jatuh hati ini membuat halaqoh-halaqoh qur’an. Subhanallah, ada rasa yang tak mampu kuungkap kala melihat tangan-tangan mungil mereka memegang mushaf dan melapalkan isinya ayat demi ayat. Ada keharuan membuncah dan (sekaligus) iri menyeruak kala mendengar suara-suara jernih mereka berlomba menambah hapalan (gimana gak bikin iri dan tengsin -yang ini apalagi- kalau hapalan siswa-siswanya ternyata jauh lebih mumpuni daripada guru-gurunya). Lalu kutemukan lagi keindahan yang lain kala istirahat makan siang. Duduk tertib menghadapi hidangan, doa sebelum makan pun berkumandang diiringi suapan menggunakan tangan kanan. (Ya Rasulullah kekasih kami, lihatlah anak-anak kami yang sedang berusaha memelihara sunah-sunahmu). Akhirnya, shaf shalat dhuhur berjama’ah mengisi penuh ruangan masjid Ummu Abdul Latief yang menjadi tampak kecil karena barisan para prajurit Allah ini. Allahu Akbar. “Oh anakku, maukah kau tetap menjaga fithrahmu, hingga Allah memanggilmu kembali pulang?”

Membina insan kamil. ”Insan Kamil” makna harfiahnya (tekstual) adalah manusia sempurna. ”Insan” berasal dari bahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan manusia. ”Insan” berbeda maknanya dengan ”basyar” yang juga diterjemahkan dengan manusia. ”Insan” berarti manusia dalam pengertian manusia yang memiliki dimensi rohani, sementara basyar mengarah kepada manusia dalam pengertian jasad (biologis). Dengan demikian ”insan kamil” adalah manusia yang sempurna dalam pengertian rohani. Alquran ataupun hadis tidak pernah secara eksplisit menjelaskan tentang ”insan kamil”. Kita hanya memperoleh informasi bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan bentuk yang paling baik, seperti dalam surat At-Tin. Dalam surat tersebut dijelaskan manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang paling baik. Tetapi bentuk yang paling baik tersebut bisa berbalik menjadi bentuk yang paling hina/rendah, apabila manusia tidak mampu menjaga dan mempertahankannya.
Adapun cara menjaga dan mempertahankan bentuk yang paling baik tersebut adalah beriman dan beramal saleh. (QS.At-Tin/95:1-8). Amal saleh tersebut mencakup dua dimensi, yakni dimensi ketuhanan (vertikal) dalam rangka menjalin kerja sama yang baik dengan Allah (habl min Allah) dan dimensi kemanusiaan (horizontal) dalam rangka menjalin kerja sama yang baik dengan sesama (Habl min al-Nas) dan tentunya dengan alam sekitar. (QS. Ali ‘Imran/3:112).
Mari kita lanjutkan penyusuran kita dengan para kurcaciku. Ucapan tahmid, takbir, dan tasbih kembali harus kugemakan saat mereka membawa kabar keberhasilan di berbagai lomba akademik. “Alhamdulillah, salah seorang siswa kita, Ahmad akan menjadi wakil kabupaten untuk olimpiade matematika di tingkat propinsi.” Barokallohu. Kurang lebih, begitulah inti salah satu kabar gembira terbaru yang disampaikan kepala sekolah dalam rapat evaluasi pekanan kami. Saat itu, neuronku langsung mengingat sesosok ahli matematikawan muslim, Al-Khawarizmi. Sebagai seorang lulusan matematika, rasanya wajar saja kan kalau aku begitu mengagumi sosok ‘sang penemu angka nol’ ini. ‘Kesholehan yang diusahakan dan kecerdasan yang juga diusahakan’ adalah dua kekuatan beliau yang mestinya bisa memberi kita inspirasi dan amal nyata yang sama. Sayang, sumbangan sangat besar beliau terhadap ilmu pengetahuan teredam gaungnya akibat dispropaganda orang-orang yang tidak rela melihat Islam menjulang. Duh, betapa rindunya kita pada sosok-sosok seperti beliau. Membangun peradaban dengan bekal kesholehan dan kecerdasan hingga kehidupan pun menjadi barokah.

Sadarkah kita? Hari ini, bangsa Indonesia tengah berada dalam posisi yang memerlukan perbaikan di banyak bidang kehidupan. Akhirnya, mutu pendidikan yang menjadi sorotan dan pertanyaan banyak pihak. Berkali-kali kurikulum direvisi, hasilnya masih juga tetap belum sesuai harapan. What’s up?

Surely, -menurut saya sih- It’s not about the curriculum at all. It shouldn’t be our main focus meskipun tetap penting. Mestinya yang lebih harus kita perhatikan adalah optimalisasi aplikasi dari pesan-pesan kurikulumnya itu sendiri. Intinya, fokus kita bukan sekedar pada apa yang para siswa didik kita tahu melainkan pada sejauh mana mereka dan kita para pendidiknya berusaha mengaplikasikan keilmuan kita pada tahapan amal nyata.

Surely, -menurut saya sih- keadaan Indonesia hari ini bisa seperti saat ini, bukan karena Indonesia sudah kehabisan stok orang cerdas. Tidak percaya? Lihat saja, bukankah begitu terhipnotisnya kita saat mendengarkan alibi para advokat membersihkan nama koruptor-koruptor kakap Indonesia? Sehingga para pendosa ini masih tetap pongah berkeliaran. Begitu terhipnotisnya kita saat mendengar orasi berkobar-kobar penuh janji dan ambisi dari para politisi negeri. Duhai, bukankah itu bukti nyata bahwa kita, bangsa Indonesia masih memiliki orang-orang cerdas?

Sayang, ada sesuatu yang hilang dari orang-orang cerdas ini yang belum mereka sadari. Maka kehadiran seorang ilmuwan muda di tengah kota Bandung sungguh menjadi obat semangat bahwa kita masih memiliki orang cerdas yang istimewa, bahwa kita masih memiliki waktu dan peluang untuk melakukan perubahan.

Doktor Brian Yuliarto, direktur Indeni (Direktur Eksekutif Indonesia Energy Institute) yakni sebuah institusi pemerhati masalah energi, adalah sesosok ilmuwan muda Indonesia masa kini (yang seperti halnya Al-Khawarizmi) juga begitu saya kagumi.

Pertama kali mendengar namanya adalah saat saya masih kuliah, ketika dengan semangat empat lima (he he..) sahabat-sahabat saya yang seaktivitas dengan beliau di luar kampus banyak bercerita tentang beliau. Beliau yang (dalam bahasa saya) tidak pernah rela menanggalkan cap kesholehannya dan tidak pernah rela melihat orang-orang di sekitarnya menanggalkan kesholehan mereka sendiri, dengan kehendak Allah SWT mendapat kesempatan beasiswa S2 di negeri sakura. Anugerah ini, betul-betul beliau manfaatkan hingga tawaran melanjutkan S3 pun datang dari universitas yang sama. Yang paling mengagumkan, selama studi di negeri yang mayoritas penduduknya bukan muslim ini, beliau tetap mampu menjaga ‘kebiasaan dan prinsipnya’: tidak pernah rela menanggalkan cap kesholehannya dan tidak pernah rela melihat teman-temannya menanggalkan kesholehan mereka sendiri, subhanallah.

Kini, beliau sudah kembali berada di tanah air mengabdi (antara lain) sebagai dosen di institut almamaternya, Teknik fisika ITB. Dan saya yakin, beliau pun tengah tetap menyebarkan kecerdasan dan kesholehan yang dimilikinya tidak hanya di kampus ITB melainkan juga di tempat-tempat lainnya.

Inilah output-output pendidikan yang diharapkan dan dibutuhkan. Terimakasih Doktor Brian. Terimakasih Ahmad atas perjuangan yang telah dan masih terus kalian lakukan. Semoga menjadi inspirasi bagi teman-teman dan guru-guru kalian untuk juga senantiasa menyumbangkan karya. Agar kita bisa tetap “Menjaga Fithrah dan Membina Insan Kamil.”

By : Ida Daniati